By Nelliya Azzahra
(Novelis)

Usai solat subuh berjamaah di masjid Arga tidak langsung pulang, dia pergi dulu ke pasar mengingat isi kulkas sudah habis dan Dinda yang sedang sakit.

Istri kecilnya memang bandel. Sudah tahu ada penyakit maag, masih sengaja telat makan. Setelah merasakan sakitnya barulah dia sadar berjanji besok-besok tidak akan mengulangi. Arga menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Dinda menjadi sosok yang menggenapkan bahagianya. Meski awalnya ditolak, alhamdulillah gunung es telah mencair. Terbukti, Dinda sudah menjadi istri yang seutuhnya.
Tinggal bagaimana sekarang Arga membimbing dengan cara yang tidak menggurui juga tidak menyinggung perasaan. Watak Dinda itu tidak bisa jika dinasehati dengan keras, dia akan langsung menolak dan menarik diri. Jangankan menerima nasehat itu, mendengarkannya saja dia tidak sudi.
Ini yang membuat Arga harus putar otak. Sedikit banyak dia sudah tahu sifat istrinya sejak pertengkaran mereka tempo hari di rumah mamanya.

Karena manusia memiliki hati dan perasaan yang disebut kalbu. Kalbu inilah yang bisa mendapat cahaya hidayah dengan amar makruf nahi munkar dengan jalan yang tepat sesuai ajaran Islam. Sebaliknya jika kalbu tersebut diperlakukan dengan semena-mena misalnya melukai hati dan menyinggung perasaan, maka aktifitas amar makruf menjadi gagal dan sia-sia. Sampaikanlah dengan santun dan penuh hikmah.

Arga kembali teringat perkataan sepupunya, Gilang. Ia mengatakan bahwa Arga sudah salah memilih Dinda untuk dijadikan istri dan mengalami kemunduran atas pilihannya. Dimana dulu Vanya satu-satunya yang ideal untuk Arga, begitu pendapat gilang. Karena mereka sekufu. Secara ilmu agama, kedudukan keluarganya, juga sederajat.
Sebenarnya tentang kesetaraan dan kesederajatan suami istri, hal itu tidak ada dasarnya sama sekali dalam syariah Islam. Al-Qur'an sendiri menolaknya. Begitu pula sejumlah hadist shahih. Jadi, setiap wanita muslimah pada dasarnya pantas untuk pria muslim manapun. Berbagai perbedaan antara pria dan wanita dalam masalah harta, pekerjaan, garis keturunan, atau yang lainnya, tidak ada nilainya sama sekali. Jika laki-laki itu rida dengan wanita calon istrinya maka nikahilah. Begitupun sebaliknya.

Arga menenteng dua kresek berisi belanjaan dikedua tangannya. Dia terlihat luwes belanja di pasar tradisional sendirian. Sejak bersama Vanya, Arga juga sudah terbiasa membantu tugas istri. Dia tidak merasa keberatan sama sekali. Begitulah dalam rumah tangga saling tolong-menolong serta saling meringankan.
Selesai memasukkan belanjaan kedalam mobil, Arga segera menjalankan menuju rumahnya.

Dinda mendengar suara mesin mobil dimatikan. Itu pasti Om Arga, bathinnya. Ingin keluar menyambut suaminya tapi apalah daya, perut Dinda masih sakit serta kepala sedikit pusing. Akhirnya dia kembali meringkuk didalam selimut tebalnya.

Arga menyusun belanjaan ke dalam kulkas. Selanjutnya membersihkan ikan, ayam, dan daging. Setelah bersih diletakkan kedalam wadah masing-masing barulah dimasukkan ke freezer.
Merasa lengket oleh keringat, juga bau dari pasar Arga segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Aroma shampo dan sabun menguar dari tubuh Arga saat keluar dari kamar mandi menuju kamarnya. Dinda yang memang tidak tidur merasakan ketenangan saat harum dari tubuh Arga memasuki indra penciumannya .

Terdengar suara langkah Arga dan lemari dibuka. Dinda menebak-nebak dari balik selimut, sekarang kayaknya Om Arga sedang ganti baju. Lalu tanpa ia sadari pipinya blushing. Cepat ia menggelengkan kepala dan memukulnya pelan. Apa yang dia pikirkan sebenarnya? Oh tidak... pikirannya sudah terkontaminasi ini semua karena Om Arga.

Kasur bergerak. Tanpa bersusah payah membuka selimut Dinda tahu itu pasti Om Arga. Benar saja, tak lama tangan besar Om Arga mengusap pelan surainya. Dinda merasakan kupu-kupu terbang didalam perutnya, rasa ini... akh, dia bahkan jatuh cinta berkali-kali dengan suaminya sendiri. Bagaimana tidak, Om Arga yang dulunya cool seperti kenebo kering, kini berubah sweet memperlakukan Dinda dengan sangat baik. Dinda merasa dihargai dan disayangi sepenuh hati.

"Berhentilah pura-pura tidur, Dinda!"

Eh, ketahuan. Dinda dengan pelan membalikkan badan, kini posisi mereka saling berhadapan.

"Siapa juga yang pura-pura tidur" Dinda menggembungkan kedua pipinya.
Arga yang melihat dibuatnya gemes. Dinda memberi warna dalam hidupnya yang dulu sempat suram saat Vanya pergi. Tapi satu yang pasti, Dinda bukan Vanya. Arga tidak bisa selalu hidup dalam bayang-bayang masalalu. Apalagi sampai menginginkan Dinda seperti Vanya. Ini kesalahan Arga diawal.

Mungkin saat itu dia belum benar-benar ikhlas. Karena ikhlas bukan hanya di lisan. Jauh dalam lubuk hati Arga, dia masih berharap bertemu dan menjalani bahtera rumahtangga seperti dulu. Bagaimanapun, Vanya cinta pertama yang sulit dilupakan.

Tangan Arga terangkat mencubit pipi chubby Dinda meningkalkan jejak merah pada kulit seputih susu itu.

"Aww, sakit Om!" Dinda melotot tidak terima.

"Hehe, kamu itu gemesin, tau" Arga kembali mengacak-acak rambut Dinda tanpa memperhatikan ekspresi wajah Dinda.

"Stop, Om. Ini namanya KDRT!" Dinda melompat keluar dari selimutnya.

"Oya, benarkah?" Arga menyipitkan matanya kearah Dinda.

"Ya iyalah, lihat ini!" Dinda menunjuk pipinya, "merahkan," ujarnya tidak terima.

"Oke, saya salah, maaf, ya" Arga menangkupkan kedua tangan didepan dada dengan senyum yang mampu melelehkan hati Dinda dalam sekejap.

Om Arga ini, tampaknya bisa sekali memanfatkan ketampanan yang dia miliki untuk meluluhkan Dinda.

"Udah deh Om, gak usah kegantengan gitu" Dinda melengos. Padahal hatinya kebat kebit pengen masukin Om Arga kedalam kantong piyamanya. Biar tidak ada yang melihat wajah tampan suaminya selain dia. Tuhkan, Dinda mulai posesive.

"Ngambek" Arga mencolek pinggang Dinda. Dinda terkejut refleks memegang tangan Arga.
Pandangan mereka bertemu mengalirkan rasa hangat. Cinta jelas terlihat di mata keduanya. Akhirnya Dinda dengan pipi merona berinisiatif memutuskan kontak mata duluan.

"Merona, kamu terlihat lebih cantik, my wife" bisik Arga didekat telinga Dinda. Dinda bergidik merasakan hangat nafas Arga. Bulu kuduknya meremang lalu dia berbalik mendorong Arga menjauh. Sungguh berdekatan dengan Arga membuat jantungnya seperti habis marathon.

"Sana, Om. Jauh-jauh! Jangan ganggu orang sakit!" Dinda membuat ekspresi wajah segalak mungkin. Tapi siapa peduli kalau wajah cantik itu malah terlihat makin imut.

"Siapa yang ganggu, tadi saya mau ngajakin sarapan. Gimana perutnya masih sakit?" Kali ini Arga bertanya dengan wajah serius.

"Oh, ngomong dong Om dari tadi," Dinda menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Masih, sedikit"

"Kita sarapan dulu, ya. Saya sudah beli sarapan" Arga beranjak dari atas tempat tidur. Baru mau melangkah dia merasakan sesuatu menempel di punggungnya.

"Sesekali, Om. Saya sedang sakit" Dinda memasang wajah seperti orang sekarat membuat Arga menggeleng kepala. Dengan Dinda di punggungnya mereka berjalan menuju meja makan.

#AMK
 
Top