By Nelliya Azzahra

Arga dan Dika keluar kamar bergabung bersama suami Greysa yang duduk di ruang tunggu sambil memainkan gawainya. Melihat Arga dan Dika berjalan kearahnya dia berdiri menyapa dengan ramah.

Dinda cerita banyak mengenai sosok suami Greysa ini. Serta kisah luarbiasa mereka berdua hingga bisa bersatu seperti sekarang. Mereka melewati ujian demi ujian dari Allah dengan keikhlasan hati, sosok sederhana itulah akhirnya yang Allah pilihkan untuk Greysa wanita dengan kecantikan yang nyaris sempurna, harta melimpah, dulunya memiliki karir cemerlang sebagai seorang artis sebelum hijrah. Ya, begitulah rahasia jodoh kita tidak bisa menebak siapa dan siapa seseorang yang kelak akan berada disisi kita.

Tidak lama mereka bertiga sudah terlibat obrolan santai. Sedangkan didalam kembali Dinda murung. Ekspresi Dinda terbaca jelas oleh Greysa dan mamanya membuat mereka berdua menaruh rasa simpati. Mereka pikir Dinda begitu karena merasakan sakit akibat luka di kepala dan tangannya. Atau karena Dinda harus izin kuliah untuk beberapa hari kedepan. Jelas sedih, Dinda kalau ke kampus senang bertemu teman-temannya, pulang kuliah mereka sesekali hangout bareng. Dinda paling tidak betah berdiam diri. Dari kecil pribadinya yang ceria dan lincah membuat dia menjadi hiburan tersendiri bagi keluarganya. Anaknya tidak manja dan terkesan mandiri. Sebaliknya, waktu kanak-kanak Dika-lah yang lebih sering bergelayut manja pada mamanya. Membuat Dika dapat julukan anak mama dari Dinda. Sekarang sudah tidak. Akan memicu kemarahan Dika jika masih dipanggil 'anak mama' .

"Sayang, tiduran aja, ya." Uli menyentuh bahu Dinda pelan.

"Capek Ma, tiduran  mulu," ujar Dinda menatap Greysa dan mamanya bergantian.

"Kamu, ada masalah?" Uli bertanya karena feelingnya sebagai ibu melihat Dinda seperti memendam luka.
Yang ditanya hanya menunduk sambil memainkan ujung rambutnya.

"Dinda, benar apa kata Tante?" Kali ini Greysa ikut bertanya. Bagaimanapun mereka memiliki kedekatan sejak kecil. Dinda malah sudah seperti adik kandung bagi Greysa. Terlahir sebagai anak semata wayang membuat Greysa kesepian, beruntung dulu Dinda dan Dika sering main ke rumahnya bahkan sesekali menginap saat libur sekolah.

"Emm, itu... Dinda bingung harus cerita dari mana." Akhirnya Dinda buka suara juga setelah menimbang apakah dia harus cerita atau memendamnya sendirian. Dengan cerita mungkin dia akan mendapat solusi dan pencerahan dari Mama dan Greysa.

Melihat keraguan Dinda, Uli meraih jemari lentik Dinda menggenggamnya. Wanita bak pinang dibelah dua dengan mami Greysa itu memiliki sifat keibuan, anggun dan lembut. Dinda melihat tatapan mamanya semakin yakin untuk mengutarakan perasaannya.

"Begini..." Dinda menggantung ucapannya. Matanya melihat kearah pintu ingin memastikab tidak ada orang selain mereka bertiga didalam diruangan.

Lalu dia melanjutkan, "kemarin, Dinda gak sengaja nemuin buku milik Om Arga. Didalam buku itu berisi tulisan mengenai perasaan Om Arga untuk Vanya. Karena emosi Dinda buru-buru keluar rumah dengan tujuan kantor minta penjelasan. Kurang hati-hati, akhirnya... ketabrak." Dinda mengakhiri ceritanya dengan wajah merah menahan tangis.

Demi mendengar apa yang Dinda katakan barusan Uli terlihat syok, sedangkan Greysa tidajk berkedip sesaat. Mereka baru mengerti sekarang penyebab kenapa Dinda murung begitu.

"Mama, Kak Grey, Dinda gak suka kenyataan itu!"  Lirih Dinda dengan mata berkaca-kaca.

"Sayang." Uli meraih putrinya kedalam pelukannya. Uli pun tak kuasa menahan tangis merasakan apa yang Dinda rasakan. Dia tak menyangka Arga masih menyimpan rasa kepada mendiang istri cantiknya itu.

"Din, istifgar, ya. Tenangin dulu diri kamu." Tambah Greysa sambil mengusap punggung Dinda.

"Tapi Kak, aku gak suka, aku gak rela! Masa harus bersaing sama orang yang udah gak ada!" Seru Dinda dengan tatapan nanar kearah Dinda.

"Dinda, sabar" pelukan Uli makin erat. Mencoba menyalurkan ketenangan pada anak perempuan satu-satunya yang dia miliki.

"Ini!" Greysa memberikan segelas air putih pada Dinda. Greysa ingin Dinda lebih tenang agar bisa berpikir jernih.
Setelah dirasa lebih tenang, Uli mengurai pelukannya dan menyeka sisa airmata Dinda.

"Dinda, perasaan cemburu itu, ya manusiawi dirasakan. Dulu Bunda Aisayah ra pun pernah cemburu pada Bunda Khadijah ra. Saya rasa, hal itu wajar mengingat cerita kamu tadi. Namun, satu hal yang harus kamu jaga, jangan sampai cemburu itu menjadi sesuatu yang membuat rumahtangga kamu dan Bang Arga retak bahkan hancur. Perasaan itu perkara yang bathin, Din. Tidak bisa dihukumi. Apakah Om Arga memperlakukan kamu dengan baik selama ini?" Tanya Greysa serius.

Dinda mengangguk sebanyak dua kali.

"Alhamdulillah, itu artinya tidak ada alasan syar'i untuk kamu mempermasalahkan ini."

"Aku... cemburu Kak. Harusnya 'kan Om Arga melupakan wanita itu!" Tukas Dinda masih tidak terima.
Greysa tersenyum. Lucu melihat adik sepupunya cemburu.

"Gini deh, coba kamu cari tahu kenapa suami kamu belum bisa melupakan mendiang istrinya?"

"Itu... emm, kata Mama Om Arga, dia wanita yang shalihah, anggun, lemah lembut. Selama menjadi istri Om Arga, dia melayani dengan tulus tidak pernah membantah, mengeluh atau menuntut lebih dari kemampuan Om Arga. Dan satu lagi... dia sangat cantik, Kak. Aku melihat sendiri fotonya," ujar Dinda kembali pada ekspresi sedih. Dinda membandingkan dengan dirinya sendiri jauh banget.

Vanya itu keindahan, sosok istri idaman. Disandingkan dengan Om Arga memang cocok sekali. Dua manusia dengan kepribadian luarbiasa. Dinda kembali menangis merutuki sikap kekanak-kanakannya selama ini.

"Dinda kita semua Allah ciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mengenai sifat insyaallah bisa dirubah. Kamu lihat sendiri dulu aku gimana? Sekuler iya, jahiliyah, juga iya. Namun cahaya cinta-Nya menuntunku untuk meninggalkan itu semua dan hijrah menjadi lebih baik lagi."

Dinda sudah tahu bagaimana perjalanan hijrah Greysa selama ini. Dinda salut pada kakak sepupunya itu. Totalitas sekali ketika sudah menjatuhkan pilihan. Dinda kagum dua jempol dia berikan untuk Greysa. Jujur saja Dinda belum siap jika harus berubah seperti itu. Meskipun Om Arga pernah secara tidak langsung memintanya untuk menutup aurat dan mulai menjaga pergaulan.
Haruskah Dinda berubah? Agar bayang-bayang Vanya lenyap dari pikiran Om Arga. Kesimpulan Dinda mungkin karena dia tidak seperti Vanya, makanya cinta Om Arga tidak utuh.

"Kak, bisakah aku bersaing sekarang?"

"Bersaing." Greysa membeo.

"Iya, Kak. Bersaing untuk mendapatkan hati suamiku. Ku anggap wanita itu saingan!"

"Dinda, kamu ngomong apa sih, serem amat." Uli melotot kearah Dinda.

"Serius, Ma. Dinda ingin berubah menjadi seperti Vanya," ujar Dinda lantang.

"Dinda, niat kamu untuk menjadi lebih itu sangat mulia, tapi kamu harus ingat, rukun diterimanya amal, pertama niatnya ikhlas karena Allah, kedua ittiba' atau mengikuti apa yang Rasulullah sampaikan. Jika salah satu dari rukun itu hilang, maka amalan yang dikerjakan tertolak alias sia-sia," terang Greysa diakhiri sebuah senyuman.

Mendengar itu Dinda kembali disergap keraguan. Pusing, kepalanya berdenyut. Ini semua karena Om Arga. Awas aja dia!

"Permisi"

Obrolan mereka terpotong karena seorang perawat dan dokter masuk memeriksa keadaan Dinda.

+++++

Greysa merasakan gawainya bergetar. Ketika dia melihat nama suaminya yang muncul dilayar. Greysa tersenyum sebelum mengangkat telfonnya.

"Iya, Mas."

"Sudah belum, Sayang? Ini Mas mau ke kampus lagi ada jam mengajar."

"Oh, iya Mas. Sudah kok. Saya keluar, tunggu ya"

"Baiklah."

Greysa menutup telfon beralih melihat Dinda yang tiduran di ranjang.

"Tante, Dinda, maaf ya saya pulang duluan. Mas mau ke kampus."

"Iya Kak. Makasih udah datang, udah dengerin cerita aku yang labil ini," kata Dinda sambil nyengir kuda.

"Iya sama-sama. Udah dong ngambeknya," goda Greysa.

"Kalo itu, pikir-pikir dulu deh, Kak. Eh, Kakak tu, suami dijaga, dosen ganteng gitu biasanya banyak yang naksir loh, Kak. Hehe."

"Kamu ini, jangan godain Kakak kamu gitu!" Lagi-lagi Dinda dihadiahi pelototan dari mamanya.

"Bercanda, Kak."

 "Insyaallah, dia gak akan berpaling, Din. Karena sudah jatuh pada pesona saya" Greysa dan Dinda tertawa.

"Saya permisi ya, Tante, lekas sembuh, Din. Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam"

Greysa melangkah dengan anggun keluar menghampiri suami dan Dika. Arga tidak ada. Info dari Dika arga pulang sebentar untuk mandi dan mengambil beberapa baju ganti.
Setelah pamitan dengan Dika, Greysa yang digandeng suaminya meninggalkan rumahsakit. Mereka berdua terlihat sangat serasi.

++++++

Menjelang magrib Uli dan Dika juga pamit. Besok mereka akan kemari lagi. Karena Dinda minta dibawakan goreng ikan gurame buatan mamanya. Katanya biar makannya banyak.
Sepeninggalan orang-orang Dinda mencoba mengusir sepi dengan menyalakan tv. Setidaknya, sekarang dia lega karena tidak ada Om Arga disini. Sejenak terbebas dari rasa sesak melihat wajah suaminya.

Tangannya yang tidak diinfus sibuk memencet remote. Tapi tetap tidak menemukan siaran yang bagus. Dinda mendengus kesal lalu melempar remote kedekat kakinya. Begini resiko orang sakit. Mau ngapa-ngapain serba terbatas. Coba saja kalau sehat. Dinda sudah pecicilan kesana kemari seperti gangsing. Tidak mau diam.

Mendengar suara pintu dibuka Dinda cepat-cepat memejamkan matanya. Dia menebak, kalau tidak suster, pastilah Om Arga.
Tebakan Dinda jatuh pada Om Arga karena baru saja wangi yang sangat ia hapal siapa pemiliknya memasuki indera penciumannya.

"Dinda, sudah tidur, ya?" Suara berat Arga membuat debaran jantung Dinda bertalu-talu.

"Saya bawa ini!"

"Saya ngantuk, Om." balas Dinda tanpa repot membuka matanya.

"Lihat dulu!" Suara Arga melunak seiring dengan langkahnya mendekati tempat tidur.

Dinda kesal. Kenapa ngeyel sih, dibilang orang ngantuk mau tidur.

"Apa lag..." Dinda tak mampu melanjutkan kata-katanya kala melihat sosok yang berdiri didepannya tersenyum dengan sejuta pesona di tangannya terdapat mawar merah kesukaan Dinda. Penampilannya membuat Dinda ingin menyeretnya mengajak diner saat ini juga. Om Arga memakai kemeja Navy warna kesukaan Dinda yang digulung sampai siku, celana jeans, sepatu, juga jam tangan penunjang penampilan sempurnanya.

"Maaf." Kata Arga tulus.

Jangan luluh Dinda, kasih dia pelajaran dulu biar kapok. Dinda menyemangati dirinya sendiri.

"Maaf, karena buat kamu menangis dan sakit hati." Arga maju tangannya mengulurkan bunga mawar tepat didepan Dinda.

Dinda tersenyum miris. Andai dia sedang tidak dalam keadaan sakit hati mungkin Dinda akan segera menghambur kedekapan lelaki itu.

"Aku, gak minta dibawakan bunga, Om."

"Tapi, ini bunga kesukaan kamu 'kan? Tanya Arga.

"Jangan sok tau!" Seru Dinda.

"Salah ya? Aku pikir kamu menyukai bunga mawar. Baik, akan saya buang." Arga berbalik menuju pintu keluar dengan mawar di tangannya.

#AMK
 
Top