By: Nelliya Azzahra

Greysa memperhatikan Raziq sedang membersihkan daun tebu yang kering. Lalu menebang tebu yang sudah tinggi dan siap di panen.

Penasaran, Greysa ingin mencoba menebang tebu seperti apa yang Raziq dilakukan. Dia meminjam parang pada Bu Minah. Awalnya Bu Minah tidak mengizinkan. Khawatir tangan mulus Greysa terluka.
Tapi, bukan Greysa namanya jika tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Bu Minah akhirnya menyerah.

Dengan hati-hati Greysa memotong bagian pangkal tebu. Beberapa menit kemudian, tidak ada yang terjadi. Tebu itu masih utuh di tempatnya semula.

"Bu, ini kenapa tebunya tidak bisa dipotong?" Tanya Greysa pada Bu Minah yang berdiri di belakangnya.

"Coba Mbok lihat," kata Bu Minah mendekati Greysa.
"Oalah, Nduk. Ini mata parangnya ke balik. Harusnya yang tajam buat memotong tebunya," terang Bu Minah sambil tersenyum. Mendengar itu Greysa mengusap tengkuknya. Wajahnya merona karena malu.

Sementara Raziq diam-diam menertawakan tingkahnya barusan.

Sadar kalau sekarang dia jadi pusat perhatian, Greysa menoleh pada Raziq.

"Kenapa tertawa, memangnya saya badut!" Sarkas Greysa tidak suka.

"Maaf, Nona. Anda tidak cocok berada di kebun seperti ini," kata Raziq.

"Gak usah sok ngatur, deh. Saya mau di mana, suka-suka saya."

"Baiklah, Nona. Terserah anda."

Raziq kembali pada aktifitasnya mengabaikan wajah cemberut Greysa di depan sana. Raziq kembali tersenyum melihat penampilan Greysa saat ini. Mana ada orang mau ke kebun pakai kacamata hitam, high heels, topi untuk ke pantai, plus make up tebal seperti mau syuting.

Hayo, ada yang masih ingat Mas Raziq dan Greysa?😊
Kisah mereka aku tulis lengkap dalam novel ini, ya.
Kalau kata aku, kisah mereka berdua itu nano-nano. Ada sedihnya, kocak, bahagia. Dari perjalanan hijrah sampai kisah pencarian jodoh sempurna.
Pokoknya seru banget buat para penikmat novel. Kalau teman-teman
mau peluk novelnya, berkabar, ya😘

Wa- 083184676352.
Inbox fb : Nelliya Alfarisi
Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top